Latest Article Get our latest posts by subscribing this site
Showing posts with label Ulama. Show all posts
Showing posts with label Ulama. Show all posts

Wednesday, 29 May 2013

Asysyahid Sa'id Ramadhan Al-Buthi

Sa’id Ramadhan Al-Buthi lahir pada tahun 1929 di Desa Jilka, Pulau Buthan (Ibn Umar), sebuah kampung yang terletak di bagian utara perbatasan antara Turki dan Irak. Ia berasal dari suku Kurdi, yang hidup da­lam berbagai tekanan kekuasaan Arab Irak selama berabad-abad.
Bersama ayahnya, Syaikh Mula Ramadhan, dan anggota keluarganya yang lain, Al-Buthi hijrah ke Damaskus pada saat umurnya baru empat tahun. Ayahnya adalah sosok yang amat dikaguminya.

Pendidikannya.
Pendidikan sang ayah sangat mem­be­kas dalam sisi kehidupan intelektual­nya. Ayahnya memang dikenal sebagai seorang ulama besar di Damaskus. Bu­kan saja pandai mengajar murid-murid dan masyarakat di kota Damaskus, Syaikh Mula juga sosok ayah yang pe­nuh perhatian dan tanggung jawab bagi pendidikan anak-anaknya.

Sa’id Ramadhan Al-Buthi muda me­nyelesaikan pendidikan menengahnya di Institut At-Tawjih Al-Islami di Damas­kus. Kemudian pada tahun 1953 ia me­ninggalkan Damaskus untuk menuju Me­sir demi melanjutkan studinya di Univer­sitas Al-Azhar. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana S1 di bidang syari’ah.

Pada ta­hun berikutnya di universitas yang sama, ia mengambil kuliah di Fakultas Bahasa Arab hingga lulus dalam waktu yang cu­kup singkat dengan sangat memuaskan dan mendapat izin mengajar bahasa Arab.

Kemahiran Al-Buthi dalam bahasa Arab tak diragukan. Sekalipun bahasa ini adalah bahasa ibu orang-orang Arab seperti dirinya, sebagaimana bahasa-bahasa terkemuka dalam khazanah per­adaban dunia, ada orang-orang yang me­mang dikenal kepakarannya dalam bidang bahasa, dan Al-Buthi adalah sa­lah satunya yang menguasai bahasa ibu­nya tersebut.

Selulusnya dari Al-Azhar, Al-Buthi kembali ke Damaskus. Ia pun diminta untuk membantu mengajar di Fakultas Syari’ah pada tahun 1960, hingga ber­turut-turut menduduki jabatan struktural, dimulai dari pengajar tetap, menjadi wa­kil dekan, hingga menjadi dekan di fakul­tas tersebut pada tahun 1960.

Tak lama kemudian, Al-Buthi diutus pimpinan rektorat kampusnya untuk melanjutkan program doktoral bidang ushul syari’ah di Al-Azhar hingga lulus dan berhak mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu-ilmu syari’ah.

Aktivitasnya sangat padat. Ia aktif mengikuti berbagai seminar dan konfe­rensi tingkat dunia di berbagai negara di Timur Tengah, Amerika, maupun Eropa. Hingga saat ini ia masih menjabat salah seorang anggota di lembaga pene­li­tian kebudayaan Islam Kerajaan Yordania, anggota Majelis Tinggi Pena­sihat Yayasan Thabah Abu Dhabi, dan anggota di Majelis Tinggi Senat di Universitas Oxford Inggris.

Penulis yang Sangat Produktif

Al-Buthi adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karyanya menca­pai lebih dari 60 buah, meliputi bidang syari’ah, sastra, filsafat, sosial, masalah-masalah kebudayaan, dan lain-lain. Gaya bahasa Al-Buthi istimewa dan menarik. Tulisannya proporsional de­ngan tema-tema yang diusungnya. Tu­lisannya tidak melenceng dan keluar dari akar permasalahan dan kaya akan sum­ber-sumber rujukan, terutama dari sum­ber-sumber rujukan yang juga diambil lawan-lawan debatnya.

Akan tetapi bahasanya terkadang ti­dak bisa dipahami dengan mudah oleh ka­langan bukan pelajar, disebabkan un­sur falsafah dan manthiq, yang memang ke­ahliannya. Oleh karena itu, majelis dan ha­laqah yang diasuhnya di berbagai tempat di keramaian kota Damaskus menjadi sarana untuk memahami karya-karyanya.

Walau demikian, sebagaimana di­tuturkan pecinta Al-Buthi, di samping mam­pu membedah logika, kata-kata Al-Buthi juga sangat menyentuh, sehingga mampu membuat pembacanya berurai air mata.

Pembela Madzhab yang Empat

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengasuh halaqah pengajian di masjid Damaskus dan beberapa masjid lainnya di seputar kota Damaskus, yang diasuhnya hampir tiap hari. Majelis yang diampunya selalu dihadiri ribuan ja­ma’ah, laki-laki dan perempuan.

Selain mengajar di berbagai hala­qah, ia juga aktif menulis di berbagai me­dia massa tentang tema-tema keislaman dan hukum yang pelik, di antaranya ber­bagai pertanyaan yang diajukan kepada­nya oleh para pembaca. Ia juga menga­suh acara-acara dialog keislaman di be­berapa stasiun televisi dan radio di Timur Tengah, seperti di Iqra‘ Channel dan Ar-Risalah Channel.

Dalam hal pemikiran, Al-Buthi diang­gap sebagai tokoh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang gencar membela kon­sep-konsep Madzhab yang Empat dan aqidah Asy’ariyah, Maturidiyah, Al-Gha­zali, dan lain-lain, dari rongrongan pemi­kiran dan pengkafiran sebahagian go­longan yang menganggap hanya mere­ka­lah yang benar dalam hal agama.

Ber­bekal pengetahuannya yang amat men­dalam dan diakui berbagai pihak, ia me­re­dam berbagai permasalahan yang tim­bul dengan fatwa-fatwanya yang ber­ta­bur hujjah dari sumber yang sama yang dijadikan dalil para lawan debatnya. Ujar­an-ujaran Al-Buthi juga menyejuk­kan bagi yang benar-benar ingin mema­hami pemikirannya.

Al-Buthi bukan hanya seorang yang pandai di bidang syari’ah dan bahasa, ia juga dikenal sebagai ulama Sunni yang multidisipliner. Ia dikenal alim da­lam ilmu filsafat dan aqidah, hafizh Qur’an, mengua­sai ulumul Qur’an dan ulu­mul hadits de­ngan cermat.

Sewaktu-waktu ia melaku­kan kritik atas pemikiran filsafat materia­lisme Barat, di sisi lain ia juga melakukan pembelaan atas ajaran dan pemikiran madzhab fiqih dan aqidah Ahlussunnah, terutama terhadap tuding­an kelompok yang menisbahkan dirinya sebagai go­longan Salafiyah dan Waha­biyah.

Dalam hal yang disebut terakhir, ia menulis dua karya yang meng-counter ber­bagai tudingan dan klaim-klaim me­reka, yakni kitab berjudul Al-Lamadz­habiyyah Akbar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’ah al-Islamiyyah dan kitab As-Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah Muba­rakah wa Laysat Madzhab Islamiyy.

Tawassuth

Di era 1990-an, Al-Buthi telah me­nam­pakkan intelektualitasnya dengan menggunakan sarana media informasi, seperti televisi dan radio. Ini demi meng­usung pemikiran-pemikirannya yang ta­wassuth (menengah) di tengah gerakan-gerakan fundamentalisme Islam yang bermunculan.

Sayangnya, kedekatannya dengan penguasa politik Suriah saat itu, Hafizh Al-Asad, menjadi bumbu tak sedap di ka­langan pemerhati politik. Namun kede­kat­annya itu juga menjadi siasat politik Suriah dalam menyokong perjuangan Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah) dalam menghadapi aneksasi Israel, sekalipun beberapa pandangan­nya bertolak belakang dengan gerakan-gerakan semacam itu.

Di usia yang semakin senja, Syaikh Al-Buthi masih tetap menulis, baik lewat website yang diasuhnya mau­pun beberapa media massa dan elek­tronik lainnya. Betapa besar harapan umat ini, khususnya kalangan Ahlus­sun­nah wal Jama’ah, menanti karya-karya­nya yang lain terlahir, untuk memenuhi dahaga ilmu yang tak pernah habis-habisnya.

Beberapa hari sebelum kewafatannya, Asy-Syahid Sa’id Ramadan Al-Buthi berkata: "Setiap apa yang berlaku padaku atau yang menuduhku daripada ijtihadku, maka aku harap ia tidak terlepas dari ganjaran ijtihad.”

Asyahid Al-Buthi.

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI`UN, Kita telah kehilangan ulama terbaik kita masa kini ASY-SYAHID SA’ID RAMADLAN AL BUTHI rahimahullahuta'ala tepat saat beliau mengisi Ta`lim di Masjid Al Iman di Kota Damaskus, Suriah, ba`da maghrib Kamis, 22 Maret 2013.



2 Minggu sebelum meninggal, Habib Ali Al-Jufri menelpon beliau. Saat itu beliau berkata: "Tidak tinggal lagi umur bagiku melainkan beberapa hari yang boleh dikira. Sesungguhnya aku sedang mencium bau surga dari belakangnya. Jangan lupa wahai saudaraku untuk mendoakan aku."

Ya Alloh! ampunilah dosa-dosa beliau. Terimalah amal-amal beliau. Berikanlah tempat terbaik buat beliau. Dan kumpulkanlah kami dengan beliau di dalam surge Mu kelak. Amin, Amin Ya Robbal ‘Alamin. Biniyatil Qobul Bisiril Fatihah… 

Tuesday, 28 May 2013

Biografi Imam Ahmad

Imam Abu 'Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dilahirkan di Baghdad pada tahun 164 H/781 M. Ayahnya seorang mujahid Islam dan meninggal dunia pada umur 30 (tiga puluh) tahun. Ahmad kemudian dibesarkan oleh ibunya Saifiyah binti Maimunah.

Ahmad bin Hanbal menghafal al-Qur'an sejak kecil, pada umur 16 (enam belas) tahun sudah banyak menghafal hadits. Ahmad bin Hanbal meneruskan belajar haditsnya kepada banyak guru. Pada akhir hayatnya diperkirakan telah menghafal lebih dari sejuta hadits berikut nama perawinya.

Pada tahun 189 H/805 M, Ahmad bin Hanbal hijrah ke Basrah, kemudian ke Makkah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Disana Beliau sempat berguru kepada asy-Syafi'i. Sebelum itu guru-gurunya yang masyhur ialah Abu Yusuf, Husain ibn Abi Hazm al-Washithi, 'Umar ibn Abdullah ibn Khalid, Abdurrahman ibn Mahdi, dan Abu Bakar ibn 'Iyasy.

Pada tahun 198 H Ahmad bin Hanbal ke Yaman berguru kepada Abdurrazzaq ibn Humam, seorang ahli hadits saat itu, terkenal dengan kitabnya al-Mushannaf. Dalam perjalanannya ini Ahmad mulai menulis hadits-hadits yang dihafalnya.

Ahmad bin Hanbal kembali ke Baghdad untuk mengajar. Kehebatannya sebagai seorang ahli hadits dan pakar fikih menarik perhatian banyak orang, sehingga banyak yang belajar kepadanya. Muridnya yang kemudian berjaya menjadi tokoh hadits terkenal ialah al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud.

Al-Qasim ibn Salam berkata; "Ahmad bin Hanbal adalah orang yang paling ahli dalam bidang hukum dan aku tidak melihat ada orang yang lebih mengetahui tentang as-Sunnah selain dia. Dia tidak pernah bersenda-gurau, banyak berdiam diri, dan tidak mempermasalahkan selain ilmu."

Ahmad bin Hanbal pernah dipenjara karena keteguhannya menentang ajaran Mu'tazilah yang dipaksakan oleh pemerintah 'Abbasiyyah. Ahmad dipaksa mengesahkan ajaran baru tersebut. Ahmad enggan sehingga didera dalam penjara sampai tidak sadarkan diri. Setelah bebas Imam Ahmad meneruskan pengajarannya hingga wafat tahun 241H/856M.


Ahmad bin Hanbal meninggalkan kitab haditsnya yang terkenal yaitu al-Musnad yang terdiri tidak kurang dari 30.000 hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan atsar para sahabat. Dua orang anaknya yang meneruskan perjuangannya adalah Abdullah dan Shalih.

Biografi Imam Malik

Imam Malik bin Anas lahir di Madinah pada tahun 93 H/711 M. Datuknya adalah seorang perawi dan penghafal hadits yang terkemuka. Pamannya, Abu Suhail Nafi', juga seorang tokoh hadits di Madinah pada saat itu. 

Dari pamannya inilah Malik bin Anas mulai belajar ilmu agama, khususnya hadits. Abu Suhail Nafi' ialah seorang tabi'in yang sempat menghafal hadits dari Abdullah ibn 'Umar, 'Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Salamah, Abu Hurairah, dan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhum.

Selain Nafi', Malik bin Anas juga berguru kepada Ja'far as-Shaddiq, cucu al-Hasan, cicit Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Malik juga belajar di Masjid Nabawi dengan Muhammad Yahya al-Anshari, Abu Hazm Salmah ad-Dinar, Yahya bin Sa'ad, dan Hisyam bin 'Urwah. Semuanya murid sahabat-Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Beruntung Malik bin Anas di Madinah hidup di tengah para tabi'in. Para tabi'in ini sempat hidup bersama sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka belajar, mendengar hadits dan mengamalkan perbuatan para sahabat.

Dalam perkembangannya Malik bin Anas kemudian menjadi tokoh agama di Masjid Nabawi. Beliau juga bertindak sebagai mufti Madinah. Malik termasuk tokoh yang merintis pengumpulan dan pembukuan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kitabnya al-Muwattha'. 

Kitabnya ini dihafalkan banyak orang dan menjadi rujukan, pernah dikomentari oleh asy-Syafi'i; "Tidak ada sebuah buku di bumi yang keshahihannya mendekati al-Qur'an melainkan kitab Imam Malik ini."

Di antara yang belajar kepada Malik bin Anas di masjid Nabawi adalah Abu Hanifah dari Kufah dan Muhammad bin Idris, yang terakhir kemudian terkenal sebutan Imam asy-Syafi'i. Ketinggian ilmu Malik bin Anas diungkapkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal; "Malik adalah penghulu dari para penghulu ahli ilmu, juga seorang imam dalam bidang hadits dan fikih. Siapakah gerangan yang dapat menyamainya?"

Malik pernah dihukum oleh gubernur Madinah pada tahun 147H /764 M karena mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan hukum talak dikeluarkan kerajaan 'Abbasiyyah. Kerajaan ketika itu membuat fatwa bahwa semua penduduk harus taat kepada pemimpin, bila tidak mau otomatis akan jatuh talak atas istrinya!


Pemerintah 'Abbasiyyah memaksa Malik fatwa kerajaan. Alih-alih mengesahkan, Malik mengeluarkan fatwa bahwa hukum talak semacam itu tidak sah. Malik ditangkap dan dipukul sehingga bahunya patah, akibatnya tidak dapat shalat dengan bersedekap di dada, lalu dibiarkan irsal (terjuntai disamping badan). Malik kemudian dibebaskan dan kembali mengajar di Madinah hingga wafat pada 11 Rabiul-Awwal 179 H/796 M.

Biografi Imam Abu Hanifah

Namanya Nu'man bin Tsabit bin Zhuthi' lahir tahun 80 H/699 M di Kufah, Iraq, sebuah kota yang sudah terkenal sebagai pusat ilmu pada zamannya. Ayahnya seorang pedagang besar, sempat hidup bersama 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Abu Hanifah kadang menyertai ayahnya saat berdagang, tetapi minatnya untuk membaca dan menghafal al-Qur'an lebih besar.

Abu Hanifah mulai belajar dengan mendalam ilmu qira'at dan bahasa Arab. Bidang ilmu yang paling diminati ialah hadits dan fikih. Abu Hanifah berguru kepada asy-Sya'bi dan ulama lain di Kufah. Jumlah gurunya di Kufah dikatakan mencapai 93 (sembilan puluh tiga) orang.

Beliau kemudian berhijrah ke Basrah berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman, Qatadah, dan Syu'bah. Setelah belajar kepada Syu'bah, saat itu sebagai Amir al-Mukminin fi Hadits(pemimpin umat dalam bidang hadits), beliau diizinkan mulai mengajarkan hadits.

Di Makkah dan Madinah beliau berguru kepada 'Atha' bin Abi Rabah, Ikrimah, seorang tokoh di Makkah murid Abdullah ibn 'Abbas, 'Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah dan 'Abdullah ibn 'Umar radhiyallahu 'anhuma. Kehandalan Abu Hanifah dalam ilmu-ilmu hadits dan fikih dikenal Ikrimah sehingga disetujui menjadi guru penduduk Makkah.

Abu Hanifah kemudian meneruskan pengajiannya di Madinah bersama Baqir dan Ja'afar as-Shaddiq. Kemudian belajar juga kepada Malik bin Anas, tokoh di kota Madinah ketika itu.

Saat guru kesayangannya Hammad meninggal dunia di Basrah pada tahun 120 H/738 M, Abu Hanifah diminta menggantikannya sebagai guru dan tokoh agama di Basrah. Abu Hanifah juga berdagang. Beliau amat bijak dalam mengatur antara dua tanggung jawabnya ini, seperti dijelaskan oleh salah satu muridnya, al-Fudhail ibn 'Iyyad;

"Abu Hanifah seorang ahli hukum, terkenal dalam bidang fikih, kaya, suka bersedekah kepada yang memerlukannya, sangat sabar dalam pembelajaran baik malam atau siang hari, banyak beribadah pada malam hari, banyak berdiam diri, sedikit berbicara kecuali ditanya sesuatu masalah agama, pandai menunjuki manusia kepada kebenaran dan tidak mau menerima pemberian penguasa."

Pada zaman pemerintahan 'Abbasiyyah, Khalifah al-Mansur memintanya menjadi qadhi (hakim) kerajaan, tapi ditolak sehingga dipenjara. Abu Hanifah meninggal dunia pada bulan Rajab 150 H/767 M dalam penjara karena keracunan. Shalat jenazahnya dilangsungkan 6 (enam) kali, tiap kalinya terdiri tidak kurang dari 50.000 (lima puluh ribu) orang.

Biografi Imam Syafi'i

Lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 H/767 M. Namanya Muhammad bin Idris asy-Syafi'i. Beliau keturunan Quraisy. Terlahir sebagai anak yatim, umur 10 (sepuluh) tahun dibawa ibunya ke Makkah untuk ibadah haji. 

Selepas itu beliau tetap berada di sana untuk menuntut ilmu. Di Makkah, asy-Syafi'i mulai berguru kepada Muslim bin Khalid al-Zanji, mufti Kota Makkah ketika itu.

Kitab al-Muwattha' karangan Imam Malik bin Anas telah dihafal asy-Syafi'i pada usia 15 (lima belas) tahun. Asy-Syafi'i kemudian hijrah ke Madinah untuk berguru dengan penulis kitab tersebut. 

Sejak berumur 20 (dua puluh) tahun Beliau belajar kepada Imam Malik hingga gurunya tersebut wafat tahun 179 H/796 M. Ketokohan asy-Syafi'i sebagai murid terpintar Malik bin Anas mulai dikenal banyak orang.

Asy-Syafi'i mengambil alih sebentar kedudukan Malik bin Anas sebagai guru di Masjid Nabawi sampai ditawari kedudukan pejabat oleh Gubernur Yaman. Jabatan asy-Syafi'i di Yaman tidak lama karena difitnah sebagai pengikut ajaran Syi'ah. Selain itu pelbagai konspirasi ditujukan padanya sehingga beliau dirantai dan di penjara di Baghdad, pusat pemerintahan Dinasti 'Abbasiyyah ketika itu.

Asy-Syafi'i dibawa menghadap ke Khalifah Harun ar-Rasyid dan bisa membuktikan dirinya tidak salah. Kehandalan dan kecakapan asy-Syafi'i membela diri dengan pelbagai hujjah agama menjadikan Harun tertarik. Asy-Syafi'i dibebaskan dan dibiarkan tinggal di Baghdad. Disini asy-Syafi'i berkenalan dengan murid Abu Hanifah dan duduk berguru bersama mereka, terutama Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani.

Pada tahun 188 H/804 M asy-Syafi'i hijrah ke Mesir. Sebelumnya singgah sebentar di Makkah dan disana diberi penghormatan untuk memberi pelajaran. Asy-Syafi'i mulai dikenal sebagai seorang imam dan banyak melakukan usaha menutup jurang perbedaan antara pendapat Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah. Usahanya tidak disambut baik penduduk Makkah yang terbiasa dengan pendapat Imam Malik.

Tahun 194 H/810 M asy-Syafi'i kembali ke Baghdad, dipercaya memegang qadhi bagi Dinasti 'Abbasiyyah. Beliau menolak dan hanya singgah selama 4 (empat) tahun di Baghdad. Asy-Syafi'i kemudian ke Mesir dan menetap di sana.

Daud bin 'Ali pernah ditanya tentang kelebihan asy-Syafi'i; "Asy-Syafi'i mempunyai beberapa keutamaan, berkumpul padanya apa yang tidak terkumpul pada orang lain. Dia seorang bangsawan, mempunyai agama dan i'tiqad yang benar, sangat murah hati, mengetahui hadits sahih dan dha'if, nasikh, mansukh, menghafal al-Qur'an dan hadits, perjalanan hidup para Khulafa' ar-Rasyidun, dan pandai mengarang."


Imam asy-Syafi'i wafat pada 29 Rajab 204 H/820 M di Mesir. Beliau meninggalkan kepada dunia Islam sebuah kitab terbaik dalam bidang ushul fikihberjudul ar-Risalah. Kitab ini dikenal sebagai asas kaidah dalam mengeluarkan hukum dari nash al-Qur'an dan as-Sunnah. Juga ada kitab fikihnya yang masyhur berjudul al-'Umm.

Manfaat Membaca Biografi Ulama

Ibnu Khallikan (wafat 681 H) dalam mukaddimah kitabnya Wafayatul A’yan -yakni kitab tentang biografi para ulama' yang mulia- berkata: “Aku ceritakan kisah sekelompok orang-orang mulia yang telah aku saksikan dan aku nukil khabar dari mereka, atau mereka yang sezaman denganku tetapi aku belum pernah bertemu dengan mereka, adalah agar orang yang datang setelahku dapat mengetahui keadaan mereka”. (Mukaddimah Wafayatul A’yan: 1/ 20).

Sesungguhnya membaca biografi ulama' adalah pengubat jiwa. Padanya terdapat kesembuhan bagi mereka yang kehausan akan suri tauladan dan padanya terdapat cahaya sebagai petunjuk jalan kebaikan. Tak lupa, mengetahui kehidupan para ulama berfungsi sebagai cermin yang akan memperlihatkan kelemahan diri yang nantinya sebagai bahan perbaikan.

Umar bin al-Khattab radiyallahu anhu berkata: “Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, kerana hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa”. (‘Ainul Adab wa As-Siyasah: 158).

Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan dalam mukaddimah kitabnya al-Imam Ibnu Baz : Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar berkata: “Para ahli ilmu menaruh perhatian besar terhadap biografi-biografi para ulama. Ada yang menulis kitab tentang biografi seorang imam saja, seperti Ibnu Ahmad al-Makki serta al-Kurdi ketika menulis manaqib (perilaku yang terpuji) Imam Abu Hanifah. 

Qadhi Isa Az-Zawawi menulis biografi Imam Malik bin Anas. Al-Baihaqi, Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar al-Asqalani menulis secara khusus tentang biografi Imam Asy-Syafie. Sedangkan Ibnul Jauzi menulis manaqib Imam Ahmad.

Adapula sebahagian ahli ilmu yang menempuh cara lain yakni mereka menulis biografi ulama berdasarkan thabaqah (tingkatan) ulama yang masa hidup, daerah, ilmu atau mazhabnya yang sama. Seperti Ath-Thabaqatus Sunniyah fi Tarajimil Hanafiyah karya Taqiyuddin bin Abdul Qadir Ad-Darimi. Al-Jawahirul Madhiyyah fi Thabaatil Hanafiyahkarya Al-Quraisy.

Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik li Ma’rifati A’lam Madzhabil Imam Malik karangan Al-Qadhi Iyadh. 
Thabaqatusy Syafi’iyyatil Kubra karangan As-Subki, serta Thabaqatusy Syafi’iyyahkarya Ibnu Hidayah l-Husaini. Thabaqatul Hanabilah oleh al-Qadi Abi Ya’la, dan Adz-Dzailu ‘ala Thabaqatil Hanabilahkarangan Ibnu Rajab.

Ada juga penulisan berdasarkan disiplin ilmu tertentu seperti Thabaqatul Mufassirin, yang mana Ad-Dawudi dan As-Suyuti telah menulisnya. Thabaqah para hafiz hadis, terdapat kitab Tadzkiratul Huffaz karangan Az-Zahabi. Az-Zahabi juga ada menulis thabaqah para qari (ahli pembaca al-Quran) yakni Ma’rifatul Qura-il Kibar. Sedangkan thabaqah ahli nahwu, padanya terdapat karangan As-Suyuti berjudul Bughyatul Wu’ah.

Adapula yang menulis secara khusus para ulama di daerah atau tempat tertentu, seperti Tarikh Baghdad karangan Khatib al-Baghdadi. Tarikh Dimasyqi oleh Ibnu Asakir.Akhbar Ashfahan karangan Abu Nu’aim. Bughyatuth Thalab fi Tarikh Halab oleh Ibnul ‘Adim dan Tarikh Irbil oleh Ibnul Mustaufi.”

Ali bin Abdurrahman bin Hudzail berkata: “Ketahuilah, bahawa membaca kisah-kisah dan sejarah-sejarah tentang orang yang memiliki keutamaan akan memberikan kesenangan dalam jiwa seseorang. Kisah-kisah tersebut akan melegakan hati serta mengisi kehampaan. Membentuk watak yang penuh semangat dilandasi kebaikan, serta menghilangkan rasa malas”. ('Ainul Adab wa As-Siyasah: 158).


Oleh kerana itu wahai saudaraku, cubalah engkau membaca kisah-kisah para ulama', nescaya engkau akan mendapatkan penyejuk jiwa: “Barangsiapa belum mencuba maka belum tahu hasilnya; Maka cubalah, niscaya engkau akan mendapatkan bukti ucapan saya”. (Manzumah ash-Shan’ani fil Hajj : 83).


 
Support : Qosim Ibn Aly | Islamic Defenders Community
Copyright © 2013. Golek Surgo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by Aliy Faizal
Proudly powered by Blogger