Tuesday, 4 February 2014

Kesalahan Fatal Di Balik Buku Harun Yahya? (Inilah Jawabannya) Part. II


Kemaren saya menulis artikel berjudul Adakah Kesalahan Fatal Di Balik Buku Harun Yahya? (Inilah Jawabannya) . Tujuan penulisan itu adalah untuk membela pernyataan Adnan Oktar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Harun Yahya tentang Alloh bahwa Alloh berada di mana-mana, Alloh meliputi segala sesuatu; meliputi yang batin dan yang Zhohir, dan Alloh tak dapat disentuh menggunakan penglihatan mata.
Namun Abu Hudzaifah (Wahhabi) menyalahkan pernyataan tersebut dengan menjadikan pemahaman wahhabi sebagai standar kebenaran kemudian menuduh pernyataan Harun Yahya itu sebagai ucapan shufi, jahmiyah dan mu’tazilah.
Dalam artikel yang saya tulis kemaren, saya mengatan bahwa pernyataan Harun Yahya bukan ucapan shufi, jahmiyah maupun mu’tazilah. Pembelaan saya ini tidak berdasarkan pendapat madzhab yang saya ikuti. Sebab, madzhab yang saya ikuti berpendapat bahwa Alloh Ada tanpa tempat.
Pembelaan yang saya lakukan adalah berdasarkan Al-Quran sebelum diinterprestasikan oleh ulama dan sebelum dibingkai dalam pemahaman madzhab. Atas dasar ini saya menyatakan bahwa pernyataan Harun Yahya telah sesuai dengan Al-Quran. 
Wahhabi yang terkenal fanatic itu membatah pembelaan saya. Namun sayang, dalam membantah, wahhabi tidak menggunakan ilmu sehingga ia hanya mengulang ucapan Abu Hudzaifah yang telah saya bantah itu. Apakah yang seperti itu layak disebut sebagai bantahan?
Dalam artikel ini saya ingin menjelaskan alasan mengapa saya membela pernyataan Harun Yahya. Alasannya adalah karena pernyataan Harun Yahya itu ditujukan untuk orang atheis yang jelas-jelas kafirnya.
Harun Yahya ingin membuktikan kepada para Darwinisme bahwa Tuhan benar-benar ada dengan menggunakan Al-Quran. Pernyataannya itu bukan untuk membahas masalah antar madzhab. Dengan kata lain, ia ingin menunjukan bahwa Al-Quran mengakui eksistensi Tuhan yang dapat dibuktikan secara ilmiyah.
Hal yang perlu diperhatikan dalam buku ini adalah Harun Yahya tidak membahas perbedaan pendapat madzhab-madzhab (masalah internal) dalam islam. Sebab lawan yang ia hadapi adalah darwinisme yang anti tuhan itu (masalah eksternal) dengan menggunakan Al-Quran.
Jadi, jika ada orang yang menyalahkan pernyataan Harun Yahya menggunakan pendapat madzhab, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut salah dalam menempatkan pembahasan. Orang tersebut seperti orang munafiq yang menyalahkan umat islam saat perang uhud.
Telah maklum bahwa masalah eksternal tidak sama dengan masalah internal. Ketidak samaan ini menuntut adanya penanganan yang berbeda. Semua umat islam tahu hal ini termasuk Harun Yahya.
Karenanya, ketika ia menyatakan bahwa Alloh berada di mana-mana dan melingkupi segala sesuatu, ia memberi kode berupa tanda kutip sebagai syarat bahwa dalam pernyataannya itu terdapat khilafiyah dalam madzhab-madzhab islam.
Berikut teks asli buku EVOLUTION DECEIT hal. 189:
“Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely “everywhere” and “encompasses all”.
Artinya : “Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pasti “berada di mana-mana” dan “meliputi segala sesuatu.”
Perhatikan kalimat “everywhere” and “encompasses all”. Kedua kalimat itu diberi tanda kutip yang tidak diberikan pada kalimat yang lain. Ini adalah kode bahwa dalam hal itu ada masalah khilafiyah antar madzhab (masalah intern) dalam islam.
Harun Yahya tidak perlu menjelaskan masalah khilafiyah antar madzhab sebab lawan yang sedang ia hadapi adalah  Darwinisme yang atheis itu. Mengapa tidak perlu? Sebab orang atheis tidak memerlukannya. Yang diperlukan oleh mereka hanya pembuktian bahwa Tuhan Ada. Pembuktian inilah yang menjadi tujuan Harun Yahya dalam buku itu.
Langkah yang dilakukan oleh Harun Yahya adalah ide cemerlang. Seandainya ia menjelaskan masalah khilafiyah tersebut, niscaya hal itu justru akan membuat orang atheis semakin ingkar terhadap adanya Tuhan. Mengapa? Sebab bagi mereka keyakinan adanya Tuhan atau “beragama” merupakan sebuah masalah. Karl Marc menyebutnya sebagai candu masyarakat. Jika dalam memahami Tuhan terdapat khilafiyah, maka bagi atheis ini merupakan masalah baru yang berbeda dengan masalah yang tadi.
Maka seandainya Harun Yahya menjelaskan masalah khilafiyah itu, justru akan menorehkan sebuah keyakinan dalam hati atheis bahwa meyakini adanya tuhan adalah merupakan masalah di atas masalah. Dengan mudah mereka akan menyangkal: “Buat apa kami bertuhan jika dalam memahami tuhan terdapat masalah.”
Walhasil, tujuan penulisan buku EVOLUTION DECEIT adalah untuk mengatasi masalah eksternal yakni masalah Darwinisme yang atheis. Harun Yahya menggunakan Al-Quran untuk membuktikan adanya Tuhan. Karenanya, ia membuat pernyataan sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Al-Quran sebelum diinterprestasikan (Tafsir). Sebelum diinterprestasikan, Al-Quran menyatakan bahwa Alloh berada di mana-mana dan meliputi segala sesuatu.
Harun Yahya berkata: Allah is surely “everywhere” (Alloh berada di mana-mana). Ucapan ini sesuai dengan firman Alloh dalam Al-Baqoroh: 115 dan Al-Hadid : 4. Harun Yahya berkata: and “encompasses all”. Ucapan ini sesuai dengan Firman Alloh dalam An-Nisa: 126 dan Fushilat: 54.
Untuk sementara mari kita lupakan interprestasi ulama yang diberikan oleh ulama atas ayat-ayat di atas. kita buang jauh-jauh fanatisme madzhab yang justru mencekik islam.
Jika hal itu kita lakukan, maka kita akan tahu bahwa ucapan Harun Yahya adalah benar dan telah sesuai dengan Al-Quran sebagaimana yang saya katakan. Ucapannya bukan ucapan shufi, jahmiyah ataupun mu’tazilah sebagaimana yang wahhabi tuduhkan.
Bukankah Al-Baqoroh : 115 menyatakan bahwa kemanapun kita menghadap maka di situlah Wajhulloh? Bukankah Al-Hadid : 4 menyatakan bahwa Alloh bersama kalian di manapun kalian berada? Dan bukankah An-Nisa: 126 dan Fushilat: 54 menyatakan bahwa Alloh meliputi segala hal?
Terlepas dari interprestasi ulama dan pendapat madzhab, ayat tersebut menunjukan bahwa Alloh Ada di mana-mana dan meliputi segala sesuatu. Harun Yahya berkata: Allah is surely “everywhere” and “encompasses all”. Maka runtuhlah idiolgi Darwinisme yang menolak adanya Tuhan.
Sekalipun demikian, kata Harun Yahya : “That is, we cannot perceive Allah’s existence with our eyes,.. (Artinya : “Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita,..). Ucapan ini sesuai dengan firman Alloh dalam Al-An’am : 103:
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ
Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat penglihatan..”
Oleh karena itulah saya membela pernyataan Harun Yahya sebab pernyataannya telah sesuai dengan Al-Quran terlepas dari interprestasi ulama dan pendapat madzhab. Sebab, pernyataan itu telah meruntuhkan idiologi Darwinisme.
Pertanyaan saya buat wahhabi: Apakah kalian akan membantu Darwinisme yang atheis itu -dengan menyalahkan pernyataan Harun Yahya- menggunakan fanatisme madzhab yang kalian pertahankan dengan kebodohan dan kedunguan hingga membutakan hati kalian?

1 comment:

  1. Belajar aqidah, klo pakai logika pasti akan sesat..

    Ketika ditanya dimana Allah? Jawabannya Allah di atas langit,

    kalau Allah ada dimana2, berarti di selokan jga ada dong? Nauzubillah..

    ReplyDelete



 
Support : Qosim Ibn Aly | Islamic Defenders Community
Copyright © 2013. Golek Surgo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by Aliy Faizal
Proudly powered by Blogger