Thursday, July 25, 2013

Bantahan Untuk Ustad Wahabi Yang Ngaku-Ngaku Sebagai Mantan Pendeta Hindu


Dalam pandangan wahabi, melakukan acara selametan pada hari ke 3, 7, 40, 100, dan 1000 setelah kematian termasuk tasyabuh bilkufar (menyerupai orang kafir). Sedangkan tasyabuh bilkufar merupakan hal yang dilarang oleh Nabi SAW. Oleh karena itu wahabi melarang tahlilan.

Pernyataan tersebut mereka dapatkan dari salah satu ustad wahabi bernama Abdul Aziz yang mengaku sebagai mantan hindu. Dalam video berdurasi satu setengah jam, ia memaparkan bahwa selametan pada hari-hari tersebut merupakan ajaran dan kewajiban dalam hindu.

Dari keterangan ustad itulah, wahabi menyematkan berbagai kegiatan hindu kepada tahlilan. Apa saja yang dilakukan oleh orang hindu pada acara tersebut, mereka anggap sebagai kegiatan tahlilan. Padahal kegiatan dalam selametan orang hindu sama sekali tidak sama dengan selamatan orang islam saat tahlilan.

Pertama, tahlilan tidak hanya dilaksanakan pada hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000 setelah kematian. Tahlilan boleh dilaksanakan kapan saja sesuai dengan waktu luang masing-masing individu.  Sedangkan selamatan orang hindu, tertentu pada hari-hari tersebut.

Kedua, saat tahlilan, orang islam membaca surat al-ikhlash, al-falaq, an-nas, fatihah, awal surat al-baqoroh, ayat kursi, istighfar, sholawat, tasbih dan kalimat toyyibah (Laa Ilaha Illalloh). Apakah saat selametan orang hindu membaca bacaan-bacaan tersebut? Jawabannya adalah tidak. Mereka tidak membaca bacaan-bacaan tersebut.

Dengan demikian, selametan dalam hindu dan selametan dalam islam berbeda. Perbedaan ini merupakan bukti bahwa selametan dengan melakukan kegiatan tahlilan, bukan tasyabuh bilkufar. Meskipun orang hindu melakukan selametan pada hari-hari tersebut, namun bukan berarti jika kita melakukannya, ini termasuk tasyabuh bilkufar yang dilarang oleh Nabi SAW. Sebab, masih ada hal yang membedakannya yakni bacaan yang dibaca saat selametan.

Analognya begini: Manusia memiliki mata, telinga, hidung dan mulut. Monyet juga memilikinya. Apakah karena kesamaan ini kemudian anda mengatakan bahwa manusia sama dengan monyet? Tentu saja tidak. Sebab meskipun dalam hal-hal itu terdapat kesamaan., namun keduanya memiliki perbedaan yakni akal. Manusia memiliki akal sedangkan monyet tidak. Perbedaan ini adalah bukti bahwa manusia dan monyet tidak sama.

Orang islam melakukan selametan pada hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000 setelah kematian untuk mendo’akan keluarga mereka yang telah meninggal dengan membaca berbagai surat dari al-quran dan dzikir yang disyari’atkan.

Orang hindu melakukan selametan pada hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000 setelah kematian untuk mendo’akan keluarga mereka yang telah meninggal. Hanya saja mereka tidak membaca apa yang dibaca oleh orang islam. Bacaan inilah yang membedakan antara selametan dalam islam dan selametan dalam hindu. 

Jika wahabi masih mengatakan keduanya sama -sekalipun ada perbedaannya- maka penyamaan ini merupakan sebentuk pengakuan wahabi bahwa mereka sama dengan monyet. Sebab, Wahabi dan monyet sama-sama memiliki mata, telinga, hidung dan mulut. (hehehe….)

Saya tahu orang wahabi tidak mau menggunakan akal mereka. Dalam wahabi, hukum menggunakan akal untuk masalah agama dalah haram. Jadi penalaran yang saya berikan, tidak mungkin dapat dipahami oleh wahabi. Sebab, penalaran itu, hanya bisa dipahami oleh manusia yang mau menggunakan akalnya. Sedangkan wahabi tidak mau menggunakan akalnya.

Sebenarnya saya ragu atas pengakuan ustad wahabi, Abdul Aziz sebagai mantan pendeta hindu. Alasan keraguan saya adalah isi ceramahnya sama sekali tidak membahas ajaran terpenting dalam hindu. Ajaran terpenting dalam hindu adalah filsafat. Namun, ia sama sekali tidak membahas masalah filsafat dalam hindu.

Mari kita bandingkan dengan para mualaf lain seperti Irene Handono dan DR. Yahya. Keduanya adalah mantan Kristen. Saat membahas masalah kristolog, keduanya membahas ajaran terpenting kriten kemudian membantahnya. Jika Irene Handono membahas masalah trinitas, maka DR. Yahya membahas masalah bible. Dua hal ini merupakan ajaran terpenting dalam Kristen.

Tapi baiklah, mari kita lihat bagaimana orang pendeta hindu membantah ustad wahabi yang ngaku-ngaku mantan pendeta hindu itu. mereka tidak terima jika acara selametan disebut sebagai ajaran hindu, lebih-lebih desebut sebagai kewajiban dalam hindu.

Dalam web resmi milik hindu www.portalhindu.com seorang penulis hindu dari Lombok bernama Sisya Grya Taman Narmada, membantah pernyataan ustad wahabi yang mengaku sebagai mantan hindu itu. Ia menolak jika acara selametan setelah kematian disebut sebagai ajaran hindu. Dia menegaskan bahwa acara tersebut bukan kewajiban dalam hindu melainkan hanya adat.

Dalam artikel berjudul “Menggugat Kesaksian Ustadz  Ida Bagus Abdul Aziz”, Sisya Grya Taman Narmada menulis sebagai berikut: 

“Sejak SD saya belajar agama hindu, sampai sekarang Panca Yajna itu artinya lima korban suci. Bahkan di dalam Kitab Bhagawad Gita, yajna berarti bakti, pengabdian, persembahan dan kurban (sedekah) yang dilakukan dengan tulus iklas (hati suci). Bukan   berharap untung  yang lebih besar kepada Tuhan dari sedekoh yang kecil kepada manusia. Jadi Panca Yajnya itu adalah berbakti (sujud) kepada Tuhan (Dewa Yajna),  bakti kepada  orang suci  (Rsi Yajna),  berbakti kepada leluhur  (pitra yajna), melayani (berderma) kepada sesama (manusa yajna) dan bersedekah kepada bahluk bawahan (butha yajna).

Tidak ada saya jumpai arti Panca Yajna adalah lima upacara  selamatan dan  wajib ngutang,  seperti  kitab yang dibaca Ustadz Abdul Aziz. Istilah selamatan  tidak ada di dalam hindu, apalagi selamatan atas kematian. Adapun rangkaian upacara kematian di dalam hindu seperti  nelun, ngaben, ngeroras (memukur) dll. Pada intinya  merupakan penyucian sang jiwa dari unsur badan fisik, mendoakan agar perjalanan sang jiwa tidak mendapatkan halangan,  memperoleh ketenangan dan kedamaian di alam pitra. (Kitab Asvalayana Griha Sutra).  

Setelah membantah selametan disebut sebagai ajaran hindu, selanjutanya ia menegaskan bahwa selametan merupakan tradisi. Ia meminta agar ustad Abdul Aziz membedakan antara ajaran agama dan tradisi. Katanya:

Dengan tanpa bermaksud merendahkan kemampuan sosok Ustadz Abdul Aziz di bidang agama, namun perlu saya sampaikan bahwa rangkaian acara satu hari, 3, 7, 40, 100 dan  nyewu,  menurut hemat saya adalah tradisi di dalam kehidupan beragama dengan berbagai tujuan dan motivasinya. Misalnya “Tradisi Nyewu di Yogyakarta’’ yang pernah dimuat di Media hindu. Tolong dibedakan antara agama dan tradisi.”
Walhasil, selametaan pada hari ke 3, 7, 40, 100, dan 1000 setelah kematian bukan ajaran hindu sebagaimana yang dikatakan oleh wahabi. Itu hanya merupakan tradisi sebagaimana yang dikatakan oleh orang hindu sendiri.

Maka melakukan selametan pada hari-hari tersebut tidaklah menyerupai orang hindu, melainkan mengikuti adat. Jadi, titik permasalahannya tidak terletak pada tasyabuh bilkufar, melainkan terletak pada mengikuti tradisi.


Kita tahu bahwa pelaksanaan tahlilan pada hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000 setelah kematian hanya merupakan adat. Adat adalah suatu perbuatan atau perkataan yang terus menerus dilakukan oleh manusia lantaran dapat diterima akal dan secara kontinyu manusia mau mengulanginya.  (Muhammad Ma’shum Zein, Sistematika Teori Hukum Islam (Qawa’id Fiqhiyyah), Jombang: Al-Syarifah Al-Khadijah, 2006, h. 79.)

Agama islam sangat bijak. Dalam menghadapi adat atau tradisi, islam tidak langsung memangkasnya secara keseluruhan. Namun dilihat dulu kriteria adat tersebut. Apakah bertentangan dengan syari’at ataukah tidak?
Untuk mengetahuinya, kita harus melakukan analisa, apakah adat tersebut telah menghalalkan sesuatu yang diharam oleh syari’at ataukah tidak? Jika ternyata menghalalkan apa yang diharamkan oleh syari’at, maka adat itu adalah haram. Seperti adat memakan riba. Syari’at jelas mengharamkan riba’ dengan dalil shorih. Maka adat yang seperti ini hukumnya adalah haram.

Berbeda dengan adat  yang tidak bertentangan dengan syari’at. Seperti adat (kebiasaan) wanita haid. Ketika ia mengalami istihadhoh, maka haidnya dikembalikan kepada adat tersebut. Pengembalian ini tidak bertentangan dengan syari’at. Sebab tidak ada dalil yang mengatakan begini: “Jika wanita mengalami istihadhoh, janganlah waktu haidnya dikembalikan pada adatnya.”

Oleh karena itu, para ulama ushul fiqih membagi adat menjadi dua; adat fasid dan adat shohih. Adat fasid adalah adat yang bertentangan dengan syari’at. Adat shohih adalah adat yang tidak bertentangan dengan syari’at. Adat yang fasid tidak boleh diikuti. Namun, adat yang shohih boleh diikuti, bahkan boleh dijadikan sebagai dasar hukum. (Lihat Abu Zahro, Ushul Fiqh, hlm 274 cet, Darul Fikr Al-‘Arobi)

Berkenaan dengan adat yang shohih, ulama fiqih merakit sebuah kaidah yakni العادة محكمة (Adat dapat dijadikan sebagai dasar hukum). Dalam merakit kaidah tersebut, mereka tidak asal nyeplos seperti adatnya wahabi. Tetapi mereka memiliki dalil berupa atsar dari Sahabat Ibn Mas’ud, yaitu:
مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ
Artinya: "Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah.” (Asybah Wannazho’ir)

Apakah acara selametan pada hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000 setelah kematian bertentangan dengan syari’at? Adakah dalil larangan mengadakan acara selametan pada hari-hari tersebut?
Ternyata acara selametan pada hari-hari itu tidak bertentangan dengan syari’at. Tidak ada dalil, baik dari al-qur’an maupun hadits yang mengatakan: “hai orang-orang yang beriman! jangan mengadakan selametan pada hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000 setelah kematian.”


Jadi, selametan pada hari-hari tersebut tidak bertentangan dengan syari’at. Maka kita boleh meneruskan adat itu. Ini jika kita bersedia mengikuti ulama sebagai ulil amri. Jika wahabi tidak mau mengikuti ulil amrin dalam menilai adat, yo monggo. Gitu aja repot.

4 comments:

  1. Kalau hadistnya "menyerupai", apakah harus sama ???

    ReplyDelete
  2. kalo nggak sama berarti nggak serupa mas :)

    ReplyDelete
  3. Wahabi itu apa tho? apa yang selalu menolak tahlilan, ziarah kubur harus dikatakan wahabi? Ketika seorang pembicara sejalan dengan pikiran pendengarnya maka tidak ada masalah... tetapi bila seorang pembicara berbeda dengan pikiran si pendengar maka yang terjadi adalah..... Maaf kalo saya sepakat dengan ustad Abdul Azis

    ReplyDelete
  4. gembar gembor anti wahabi kok terdengarnya baru satu dasawarsa ini ya? ato sekitar akhir tahun 90an. padahal al muwahidin sudah beberapa abad yll. Abdullah bin abdul wahab mengajak kepada ajaran Rasulullah yang murni, sehingga orang2 Islam yg selama itu nyaman dengan kemlencengannya merasa terusik dengan gerakan Abdullah bin abdul wahab... sehingga gerakanya diberi olok olok "Wahabi" karena benci tidak mau dimurnikan.

    ReplyDelete



 
Support : Qosim Ibn Aly | Islamic Defenders Community
Copyright © 2013. Golek Surgo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by Aliy Faizal
Proudly powered by Blogger